AD (728x90)

  • 2793 Pine St

    2793 Pine St

    Nulla facilisi. Cras blandit elit sit amet eros sodales, non accumsan neque mollis. Nullam tempor sapien tellus, sit amet posuere ante porta quis. Nunc semper leo diam, vitae imperdiet mauris suscipit et. Maecenas ut neque lectus. Duis et ipsum nec felis elementum pulvi...

  • 1100 Broderick St

    1100 Broderick St

    Nulla facilisi. Phasellus ac enim elit. Cras at lobortis dui. Nunc consequat erat lacus, a volutpat nisi sodales vitae. Phasellus pharetra at nulla in egestas. Vestibulum sit amet tortor sit amet diam placerat tincidunt sit amet eget lorem. Phasellus ...

  • 868 Turk St

    868 Turk St

    Nulla facilisi. Phasellus ac enim elit. Cras at lobortis dui. Nunc consequat erat lacus, a volutpat nisi sodales vitae. Phasellus pharetra at nulla in egestas. Vestibulum sit amet tortor sit amet diam placerat tincidunt sit amet eget lorem. Phasellus posuere posuere fel...

  • 420 Fell St

    420 Fell St

    Sed at vehicula magna, sed vulputate ipsum. Maecenas fringilla, leo et auctor consequat, lacus nulla iaculis eros, at ultrices erat libero quis ante. Praesent in neque est. Cras quis ultricies nisi, vitae laoreet nisi. Nunc a orci at velit sodales mollis ac ac ipsum. Na...

Showing posts with label cara mendidik anak. Show all posts
Showing posts with label cara mendidik anak. Show all posts

Wednesday, March 25, 2015

Hal-Hal Yang Bisa Mempengaruhi Anak Menjadi Manja

Berikut ini adalah hal-hal yang bisa mempengaruhi anak menjadi manja:

1. Lingkungan Keluarga
Orang tua akan lebih besar memberi pengaruh bagi anak supaya anak tidak melakukan kemanjaan. Apabila orang tua dalam membimbing dan mengarahkan anak tidak hati-hati maka akan terbentuk sikap manja yang timbul dari dalam diri anak itu sendiri yang akan mengakibatkan anak manja. Perbuatan dan sikap manja itu muncul diperoleh dari orang tua.
Menurut Rusda Koto Sutadi (1994), “Anak tunggal, sulung, bungsu, anak sering ditinggal orang tua, persaingan di antara anak merupakan penyebab kemanjaan yang diperoleh dalam lingkungan keluarga”. 
 
2.  Lingkungan Masyarakat
Kemanjaan anak muncul karena pengaruh faktor lingkungan masyarakat. Masyarakat yang kurang memahami tentang perkembangan anak, akan berbuat dengan tidak terarah, yang semestinya perbuatan belum bisa diterima oleh anak ternyata sudah diberikan dan lama kelamaan anak akan lebih senang pemberian orang lain (masyarakat) daripada pemberian atau pengarahan orang tua meskipun sebenarnya tujuan orang tua mengarahkan supaya tidak muncul pada kemanjaan anak.

3.  Lingkungan Sekolah
Kemanjaan anak muncul karena kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas. Biasanya si anak selalu memanggil-manggil gurunya, kemudian merengek-rengek minta dibantu dalam menyelesaikan tugasnya meskipun sebenarnya si anak mampu menyelesaikan tugasnya sendiri. 

Saturday, April 12, 2014

Tips Mendidik Anak Agar Pintar di Sekolah

Memiliki anak yang pintar disekolah pasti idaman semua orang tua.Anak yang cerdas dan pintar disekolah bukan datang dengan serta merta, perlu pendekatan khusus dan waktu luang orang tua untuk mendampinginya belajar.Untuk itu, tentu saja orang tua harus rela berkorban untuk meluangkan waktu bagi anak.Jadi tak cukup hanya mendapat bimbingan guru disekolah/les saja, peran orang tua dirumah juga sangat penting bagi perkembangan belajarnya.

Berikut beberapa tips untuk mendidik anak agar pintar disekolah
1.Jangan dipaksa
Biarkan anak berkembang dan berikanlah ia waktu.Jangan suka memaksa atau memberi target kepada anak.Anda hanya bisa memberi dorongan untuk menjadi lebih baik.Berikan reward jika anak sukses dalam ujian misalnya, asalkan rewardnya yang positif dan menunjang mereka.Jangan pula menakuti, misalnya "Awas jika kamu tidak masuk sepuluh besar".Bentuk menakuti anak seperti itu bukannya akan mendorong anak menjadi pintar, justru ia akan menjadi was-was dan kesulitan memecahkan soal saat ujian.

2.jangan ajari mencontek
Jika anak bertanya langsung apa jawaban suatu soal PR, jangan serta merta diberi tahu jawabannya secara langsung.Berikan ia minat belajar dengan cara menyuruhnya kembali untuk membaca materi pelajarannya.Jika itu soal hitung-hitungan,berikan cara yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal dengan contoh soal yang lain.Langsung memberitahu jawabanya sama artinya mengajari anak untuk mencontek, sehingga ia sulit akan berkembang.

3.Ajarkan hal hal baru
Jika anak anda pulang sekolah membawa hal hal baru, maka anda sebagai orang tua harus bisa mengajarkan tentang hal baru tersebut.Untuk itu orang tua juga harus rela mencari pengetahuan yang benar untuk kemudian diajarkan kembali kepada anak.

4.Dampingi anak belajar
Mendampingi anak belajar bukan berarti ikut mengerjakan soal PR si anak.Anak usia dini hanya butuh arahan dan dorongan dari orang tuanya, seperti bagaimana cara menyelesaikan soal yang benar.Bantulah memecahkan masalah mengenai soal pelajaran mereka, jika memang anak betul-betul tak mampu menyelesaikannya.

5.Kenali kemampuan anak
Setiap anak memiliki daya tangkap yang berbeda, ada yang lebih cepat memahami sesuatu dan ada juga yang lebih lambat.Untuk itu jangan suka membandingkan anak anda dengan anak lain, hal ini akan membangun sifat minder dan mudah menyerah.Kenali kemampuan anak anda, berikan dorongan sesuai kemampuannya daripada membandingkannya dengan si ini atau si itu.

6.Ingatkan
Biasanya anak menyukai sesuatu yang lebih menarik misalnya bermain game atau nonton televisi, sehingga seringkali lupa jika ada PR atau waktunya belajar.Jika waktunya belajar, ingatkan dia jika sudah waktunya belajar.Namun jangan membentak jika agak membandel, perlu kesabaran untuk membujuknya baik-baik.Suka membentak anak untuk memaksa nya berlajar bukanlah hal baik, sebab akan mempengaruhi suasana hatinya ketika belajar.Jika suasana hatinya tidak baik, walau mau belajarpun dia tidak akan bisa fokus dan konsentrasi.Ini berkaitan dengan cara mendidik kedisiplinan  anak.

7.Buat dia bisa konsentrasi
Ciptakan suasana yang kondusif dan tenang saat ia belajar.Jauhkan dari suasana yang gaduh dan matikan televisi.Orang tua harus rela melewatkan sinetron kesayangannya saat ia belajar, jika ingin anaknya pintar disekolah.

8.Buat ia nyaman dan menyukai belajar dengan anda sebagai orang tuanya
Beri ia kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, dengan menumbuhkan motivasi.Misalnya jika anak mendapat nilai buruk, jangan serta merta anda memarahinya.Anak bisa bosan dan takut ketika ia akan belajar dirumah dengan anda.Kasih dukungan dan arahan agar anak bisa berkembang, dengan memberinya kesempatan untuk memperbaiki atau mempelajari kesalahannya.Jika anda suka kasar dalam mendidiknya, memarahinya bisa bahaya karena anak bisa kehilangan minat dalam pendidikannya.

dengan adanya tipe-tipe ini anda sbagai orangtua bisa mencobanya kepada anaknya.  agar anak anda menjadi pintar sesuai dengan keinginan anda.

Thursday, February 6, 2014

Tips Untuk Papa Dalam Mendisiplinkan Anak

Banyak Papa yang berasumsi untuk mendisiplinkan anak berarti harus marah, berteriak, mengancam, atau bahkan memukul anak jika berbuat salah. Disiplin bisa diterjemahkan dalam banyak cara dan diterapkan dengan yang berbeda oleh seorang Papa.

Sebagian besar Papa mungkin dibesarkan dengan orang tua laki-laki yang bekerja dan pulang sampai larut malam, dan sebagian besar waktu dihabiskan dengan Mama. Mungkin dulu (bahkan sampai sekarang) kita sering mendengar ancaman seorang Mama “Tunggu sampai Papa kamu pulang!”  Sebuah contoh dimana seorang Papa diberi label “penghukum”. Konsekuensinya Papa sekarang mungkin tidak terbiasa dengan cara mendidik anak yang tanpa melibatkan teriakan atau hukuman.

Dalam mendidik anak, seorang Papa harus konsisten, tegas dan disiplin. Menjaga konsistensi sebagai orang tua tidaklah mudah, apalagi jika pasangan Anda mempunyai sifat yang berbeda dengan Anda. Sebagai seorang anak akan kebingungan jika salah satu orang tuanya serba membolehkan sedangkan yang lain keras dan tegas.
Seorang anak akan dengan cepat memahami jika kedua orang tua mereka mempunyai peraturan yang berbeda dan secara alami akan mulai menggunakan hal tersebut menjadi senjatanya. Jadi sebagai Papa, tetapkan metode menjadi orang tua Anda sejak dini, dan lakukan dengan konsisten. Hal tersebut akan memudahkan seorang anak untuk memenuhi ekspektasi Anda sebagai orang tua.
Dengan pemahaman diatas, membangun sebuah hubungan yang terpercaya dengan seorang anak adalah kunci dalam mendidik anak dengan disiplin. Di bawah ini ada 5 tips yang untuk Papa dalam mendidik anak untuk menjadi disiplin:
  1. Jadilah Papa yang tegas, baik dan terhormat dalam menetapkan batasan-batasan untuk anak.
  2. Cobalah untuk lebih sering untuk menjawab “iya” daripada “tidak”. “Iya kamu boleh makan biskuit, tapi setelah makan ya”
  3. Gunakan cara berpikir yang logis untuk memperbaiki sikap anak. “Kalo kamu masih meletakkan sepedamu di luar sekali lagi, Papa akan simpan sepeda kamu di dalam garasi seminggu ya”. Dan kemudian lakukan hal tersebut.
  4. Jadilah sosok yang pernuh dengan integritas. Anak Anda akan belajar lebih banyak dengan melihat sikap Anda daripada ucapan Anda saja.
  5. Jika mungkin, adakan rapat keluarga dalam waktu-waktu tertentu untuk semua anggota keluarga dapat share ide ataupun saran. Fokusnya adalah bagaimana agar keluarga semakin dekat, bukan waktu untuk mengoreksi ataupun malah timbul konflik.
Jadilah panutan. Menjadi seorang Papa yang efektif dan penuh kasih sayang adalah salah satu penghargaan terbesar seorang laki-laki. Jika Anda membangun hubungan yang kuat dan penuh percaya, Anda akan mendapatkan sebuah legacy yang dapat Anda banggakan seumur hidup.

sumber :  http://www.lactamilmama.com/2013/02/tips-untuk-papa-dalam-mendisiplinkan-anak/

Monday, February 3, 2014

Mendidik Anak Tanpa Kekerasan

Memiliki anak-anak yang punya kedisiplinan tinggi, memang cita-cita semua orangtua. Namun, adakalanya orangtua kesulitan “menjinakkan” anak-anak mereka. Agar jagoan cilik Anda mau mematuhi segala aturan yang ada di rumah, ikuti 19 trik berikut ini.

Sering kali, orangtua terus berkutat dengan masalah kedisiplinan yang idealnya selalu dipatuhi anak-anak. Orangtua terkadang harus memaksa anak-anaknya untuk disiplin di rumah, menghormati orangtua, bicara dengan nada yang santun, rajin belajar, tidur siang tepat waktu, yang intinya mengatur semua gerak-gerik Si Kecil. 

Namun, harus tetap ingat, kedisiplinan yang Anda maksud tak hanya melakukan koreksi pada tingkah laku anak-anak saja. Tapi juga mengajarkan kepada mereka cara untuk bisa mengontrol dirinya, serta peduli akan lingkungannya, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi orang yang berhasil di kemudian hari.
Untuk itu, ada beberapa pendekatan yang dapat Anda lakukan untuk membantu anak-anak mendisiplinkan dirinya.

1. Tegas
Jika Anda melarang anak-anak untuk tidak melakukan sesuatu, buatlah alasan-alasan yang masuk akal, dengan memberikan penjelasan dan bimbingan padanya. Anak jaman sekarang pasti tidak akan mau menerima alasan seperti, “Jangan duduk di depan pintu, pamali!” Atau, “Jangan main terlalu sore, nanti diculik Kalong Wewe!” Beritahu alasannya, kenapa dia tidak boleh duduk di depan pintu atau bermain sore-sore, menjelang malam.

2. Jangan Plin Plan
Pada dasarnya, Si Kecil akan meniru apa yang orang dewasa lakukan. Begitu pun jika Anda dan pasangan bertindak plin-plan terhadap suatu keputusan. Misalnya, Anda tak setuju dia melompat-lompat di tempat tidur, sementara pasangan Anda membiarkannya. Hal ini hanya akan membuat dia bingung, akibatnya dia jadi mengabaikan ketidaksetujuan Anda. Jadi, buatlah kesepakatan keputusan dengan pasangan agar anak-anak jadi mudah dalam bersikap.

3. Kompromi
Anak-anak tak selalu bisa mengatasi dan membedakan antara persoalan yang besar dan kecil. Sesekali, berkompromi dan mengertilah diri mereka. Tindakan kompromi akan membuat anak-anak menjadi lebih mudah menghadapi persoalan yang lebih besar nantinya. Misalnya, jika dia lalai menengok ke kiri-kanan saat akan menyeberang jalan, lain kali dia tak akan begitu lagi. Jika Anda keberatan dengan sikapnya, nyatakan dengan jelas. Misalnya, “Berhentilah melempar-lempar mainanmu, Nak!” Tapi, jangan katakan, “Hei, mainannya jangan dilempar-lempar, dong!”

4. Beri Bimbingan
Jika anak Anda mengobrak-abrik buku dari lemari yang ada di ruang keluarga, katakan saja, “Maukah kamu berhenti ‘bermain’ buku? Baca saja, ya di kamarmu?” Jika dia tak memedulikan perkataan Anda, dengan cara yang lembut namun tegas, Anda bisa membimbingnya ke kamar dan katakan padanya, dia boleh kembali ke ruang keluarga jika mau mendengarkan kata-kata Anda.

5. Beri Peringatan
Jika anak tahu aturan yang telah Anda buat, pada usia tertentu, Anda hanya perlu bertanya padanya, ketika melakukan pelanggaran. Dia akan langsung merasa segan pada Anda, karena ada konsekuensi atau sanki yang harus diterimanya segera, setelah pelanggaran dibuat. Jika Anda terbiasa membuat batasan peringatan sampai hitungan 5, kali ini kurangi sampai hitungan ke 3, sehingga anak akan belajar untuk segera mengubah sikap setelah diberi peringatan.

6. Beri Alasan
Jika anak bermain-main dengan benda tajam, Anda tentu harus lebih berhati-hati memperingatinya. Terangkan dengan bahasa yang jelas dan sederhana, apa yang akan Anda lakukan dan sebutkan alasannya. Misalnya, “Mama simpan pisaunya ya, Sayang, nanti bisa melukai tanganmu!” Atau, “Mama minta kamu jangan main air ya, nanti lantainya jadi licin dan bisa bikin kamu terjatuh.”

7. Jangan Tunda Hukuman
Jika Anda ingin menghukum anak yang tidak disiplin, hukumlah segera setelah Anda tahu dia tidak disiplin. Jangan sampai Anda menunda memberi hukuman padanya. Sebab, anak-anak tidak akan mau menerima hukuman beruntun atau mengulangi kesalahan. Berilah hukuman yang mendidik, seperti menyapu lantai, merapikan tempat tidur, tidak main play station atau barbie, atau membersihkan kamar mandi.

8. Tetap Tenang
Marah sambil berteriak, membentak, atau menceramahi anak tanpa henti, akan membuat Anda menjadi orang yang melakukan tindak kekerasan verbal terhadap anak. Tindakan ini justru bisa merusak rasa penghargaan diri pada anak Anda. Akibatnya, anak jadi tidak memiliki rasa pede di hadapan orangtuanya.

9. Bertekuk Lutut
Menunduklah saat berbicara pada Si Kecil, terutama saat memberi kritikan padanya. Tekuklah lutut Anda atau ambil posisi duduk di hadapnnya, agar pandangan mata Anda sejajar dengannya. Dengan sikap seperti ini, Anda tak perlu merasa khawatir akan kehilangan respek darinya. Justru sebaliknya, dia akan semakin menghormati dan menghargai Anda sebagai orangtua.

10. Jangan Ceramah
Ajaklah Si Kecil ngobrol dan berdiskusi, dari pada diceramahi panjang lebar. Meskipun tampaknya pernyataan ini tidak bernada keras, seperti, “Sudah berkali-kali Mama bilang …” Atau, “Setiap saat kamu kok …”, tetap memberi kesan seolah-olah dia ditakdirkan untuk selalu mengecewakan Anda, apapun yang dia perbuat.
Cobalah gulirkan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Merokok, kan, enggak baik untuk anak-anak, ya?” Atau, “Apakah kamu suka jika temanmu mengganggu terus di sekolah, Nak?” Kritiklah sikapnya, jangan salahkan dirinya.

11. Tunjukkan Sikap Positif
Terlalu banyak waktu Anda yang terbuang jika hanya mengkritik sikap buruk Si Kecil. Sebaliknya, Anda jadi kekurangan waktu untuk memberinya pujian atas sikap positifnya. Ada kalanya, sesekali Anda perlu mengucapkan, “Mama senang, lho, lihat kamu membereskan mainan dan menyimpannya di tempat semula.”

12. Bermain Bersama
Jika sempat, tak ada salahnya Anda meluagkan waktu sebenatr dan ikut bermain-main denganyya. Buatlah permainan bernuansa perlombaan semacam “siapa cepat dia dapat.” Permainan ini akan melatih anak Anda bertindak cepat setelah ada aba-aba dari Anda, atau yang dia ucapkan sendiri.

13. Hindari Rasa Jengkel
Belajarlah untuk memaklumi hal-hal yang bisa memicu anak kesal dan jengkel. Umumnya, perasaan tidak nyaman ini dialami anak-anak saat dia sedang kelelahan, saat Anda terlalu menuntutnya berbuat lebih, saat dia lapar, dan saat dia sakit. Minimalisasi kondisi-kondisi yang membuatnya tidak nyaman ini untuk mengurangi kejengkelan pada anak.

14. Jangan Menampar!
Tamparan keras yang Anda berikan di wajahnya, akan berpengaruh buruk bagi diri anak, juga Anda. Anak yang pernah ditampar orangtuanya akan merasa lebih menderita, dari pada perasaan tidak dihargai atau depresi sekalipun. Tindakan ini pun sekaligus bisa mengajarkan, secara tidak langung pada anak, untuk menyelesaikan segala persoalan dengan cara kekerasan.

15. Jangan Menyuap
Jangan membiasakan memberi uang atau hadiah kepada anak saat Anda memintanya untuk mengerjakan atau melarang sesuatu. Kebiasaan seperti ini bisa membuat anak jadi tidak mau mengerjakan atau menghindari sesuatu, jika belum diberi uang atau hadiah.

16. Bersikap Dewasa
Bersenda gurau dengan cara melucu berlebihan, dengan menggigiti atau menarik-narik rambut anak Anda, untuk menunjukkan rasa sayang, merupakan tindakan yang salah. Bersikaplah sewajarnya, sebagai orang dewasa seperti menggenggam tangannya, memeluknya, atau memberi ciuman di kedua pipi atau kepalanya.

17. Hadapi Rengekan
Katakan kepada anak-anak untuk tidak merengek saat meminta sesuatu dan tegaskan pula, Anda tidak akan mengabulkan permintaannya jika disampaikan dengan cara merengek atau menangis. Kecuali, jika dia meminta sesuatu dengan sikap yang manis dan sopan.

18. Contoh Baik
Jika suatu kali anak Anda pernah memerogoki Anda sedang berdebat dengan pasangan tanpa menggunakan kekerasan, dia akan meniru sikap baik itu. Tapi, jika Anda dan pasangan bertengkar dengan saling menghina, memukul, atau berteriak, anak Anda akan meniru sikap-sikap buruk itu di kemudian hari.
Dari 18 trik di atas, yang terpenting, Anda harus mengerti terlebih dulu kondisi anak-anak. Berusaha untuk membuatnya menjadi lebih disiplin, tanpa memahami bagaimana dan apa yang dia lakukan, sama halnya seperti menuangkan sirup ke dalam botol tertutup. Dengan kata lain, percuma saja dan hanya akan memperburuk keadaan di kemudian hari.

Hubungan dan komunikasi yang baik dengan anak memang sangat perlu dilakukan. Yang bisa Anda lakukan segera untuk mengatasi masalah ini, yaitu Anda hanya perlu bertanya kepada anak, apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa dia berbuat begitu. Pada beberapa kasus, anak-anak dapat berterus terang tentang masalahnya kepada orangtua. Namun, jika dia tak mau berterus terang, sementara Anda tidak mempunyai cara lain untuk bertindak, tetaplah berpikir positif.

Sumber: myquran.org

Saturday, January 4, 2014

Pendidikan Anak Dalam Keluarga

Pendidikan dalam keluarga adalah tanggungjawab orang tua, dengan peran Ibu lebih banyak. Karena Ayah biasanya pergi bekerja dan kurang ada di rumah, maka hubungan Ibu dan anak lebih menonjol. Meskipun peran Ayah juga amat penting, terutama sebagai tauladan dan pemberi pedoman. Kalau anak sudah mendekat dewasa peran Ayah sebagai penasehat juga penting, karena dapat memberikan aspek berbeda dari yang diberikan Ibu. Oleh karena hubungan Ayah dan anak terbatas waktunya, terutama di hari kerja, maka Ayah harus mengusahakan agar pada hari libur memberikan waktu lebih banyak untuk bersama dengan anak.

Jika penghasilan keluarga tergantung pada penghasilan Ayah yang kurang memadai untuk kehidupan keluarga dapat menimbulkan persoalan pendidikan yang tidak sedikit. Ada pendapat berbeda tentang pendidikan dalam keluarga, yaitu tentang pemberian kebebasan kepada anak. Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya sejak permulaan diberikan kebebasan maksimal kepada anak. Dalam hal ini faktor pendidikan kepada anak sudah berakhir sebelum anak itu dewasa. Dalam kenyataan terbukti bahwa keluarga yang menerapkan pendidikan keluarga dapat menghasilkan pribadi-pribadi anak yang menjadi baik. Pendidikan dalam keluarga dapat memberikan pengaruh besar terhadap karakter anak. Sebab itu kunci utama untuk menjadikan pribadi anak menjadi baik yang terutama terletak dalam pendidikan dalam keluarga.

Dan karakter yang ditumbuhkan adalah faktor yang amat penting dalam kepribadian anak, karena banyak mempengaruhi prestasi dalam berbagai bidang. Ilmu pengetahuan dan kemampuan teknik adalah penting untuk pencapaian keberhasilan, tetapi tidak akan mampu mencapai hasil maksimal kalau tidak disertai karakter. Hal itu terutama karena pada waktu ini faktor karakter kurang menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan. Ini semua harus menjadi salah satu hasil penting usaha pendidikan, baik pendidikan dalam keluarga, pendidikan sekolah maupun pendidikan dalam masyarakat. Akan tetapi karena pendidikan pada anak paling dulu dilmulai dalam pendidikan dalam keluarga, maka pendidikan dalam keluarga yang seharusnya memberikan dasar yang kemudian diperkuat dan dilengkapi dalam pendidikan sekolah dan pendidikan dalam masyarakat.

Akhirnya memang tergantung pada para orang tua sendiri apakah pedoman itu dilaksanakan atau tidak. Akan tetapi karena secara alamiah orang tua ingin anaknya menjadi baik dan sukses, maka banyak kemungkinan orang tua akan berusaha menerapkan pedoman itu dalam hidup mereka.

Wednesday, December 11, 2013

Cara Mengajarkan Anak Sholat Sejak Dini

Sebagai orang tua tentunya kita semuanya menginginkan agar anak-anak kita menjadi anak yang sholeh serta juga sholehah. Tentunya tidak ada orang tua yang menginginkan anak-anaknya terjerumus dan terperosok di jalan-jalan yang tidak benar yang senantiasa disebarkan oleh setan musuh kita semua sebagai umat Islam. Dan salah satu cara membentengi diri terhadap setan adalah dengan menjalankan dan mendirikan sholat.

Sebenarnya mengajarkan anak shalat serta akan pentingnya shalat memang seharusnya sudah dimulai sejak dari janin. Seorang Ibu yang senantiasa menjaga wudhu serta shalatnya pada saat hamil berarti telah mengenalkan shalat kepada janin yang dikandungnya. Makna bacaan shalat akan terekam dan akan memberikan pengaruh positif bagi sang janin. Inilah bagi dari pentingnya Mendidik Anak Dalam Kandungan.

Mau jadi seperti apa anak kita, maka penanaman hal-hal yang kita inginkan tersebut sudah dimulai dari dalam kandungan. Dan cara bijak dan hikmah memberikan pendidikan sholat pada anak adalah sangat penting dimulai sejak sedini mungkin.

Kalau membicarakan mengenai perintah shalat maka hal tersebut adalah salah satu hal yang terpenting dalam aspek spiritual dalam kehidupan anak. Karena membiasakan serta juga mendidik mengajarkan anak shalat dalam masa kecil dan anak-anak akan banyak memberikan manfaat untuk kehidupan remaja serta dewasanya kelak.

Mendidik melatih anak shalat sejak dini adalah satu hal yang tidak boleh dikesampingkan oleh para orang tua. Karena hal tersebut adalah salah satu kewajiban kita sebagai orang tua. Semuanya tersebut bermula dari keteladanan orang tua. Menyaksikan melihat kedua orang tuanya melakukan shalat lima waktu setiap hari sejak dini, membuat anak terpicu dan terbiasa juga untuk meniru.

Ketika anak memasuki usia sekolah, yaitu sekitar usia 7 tahun, maka mulailah anak untuk siap mamasuki masa untuk mempelajari tata shalat yang benar. Dan tentunya juga mengenai cara berwudhu yang benar pula. Dan ini adalah bagian dari cara tips mengajarkan anak sholat dalam Islam.

Beberapa cara yang dapat dilakukan pada fase ini, yaitu mengajarkan rukun-rukun shalat melaui pendekatan praktek langsung. Sebagai contoh pada waktu-waktu shalat orangtua mengajak anak untuk langsung melakukan shalat dengan bimbingan. Mulai dari tata cara thaharah serta berwudhu pada anak, bagaimana membentuk barisan, shaf-shaf pada shalat diikuti dengan praktek shalat yang benar serta menghapalkan doa-doa secara bertahap.

Ketika anak berusia sepuluh tahuan anak belum juga mau mengikuti perintah shalat. Maka kita diingatkan dengan sebuah hadist yang diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Suruhlah anak-anak kalian untuk shalat ketika berumur tujuh tahun dan jika telah berumur sepuluh tahun, namun tidak mau mengerjakan shalat maka pukullah.”

Ungkapan mengenai hal tersebut di atas ini perlu pula dimaknai dengan hati-hati dan juga secara arif. Karena makna “pukullah” di sini tentu bukan melakukan hukuman dengan kekerasan secara fisik yang menyakitkan dan melukai anak, akan tetapi bahwa orang tua harus menunjukkan ketidaksenangan dan konsekuensi yang sangat tegas saat anak menolak shalat.

Selain hal tersebut hal lainnya bisa juga dalam mendidik anak untuk belajar disiplin dalam memelihara waktu dan menjaga berbagai aturan yang terkait dengan waktu, dengan cara-cara yang tidak mungkin baginya untuk melakukan kesalahan atau kekeliruan. Maksud dari semua itu adalah agar anak dapat mengetahui bahwa waktu merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim yang berjalan seiring dengan pergantian malam dan siang, dan bahwa dia merupakan bagian dari waktu yang ada.

Tentunya mendidik dengan cara yang bisa diterima anak-anak seusianya, dan pula jangan terlalu untuk dipaksakan. Karena memang berbeda mengajarkan dan mendidik anak dengan berbagai dan tahap usia sendiri.

Setiap pencapaian anak dalam belajar shalat merupakan sebuah prestasi baginya. Sudah selayaknyalah kita sebagai orang tuanya memberikan penghargaan. Penghargaan tidak hanya diberikan atas prestasi akademik formal, tetapi hendaknya penghargaan diberikan ketika anak mengerjakan shalat lima waktu atau mampu membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Kewajiban orang tua mendidik anak-anaknya adalah termasuk dalam hal semacam ini.

Penghargaan sebagai bentuk ekspresi agar anak mengetahui bahwa hal tersebut memang benar-benar sebuah prestasi yang membanggakan sekaligus membahagiakan orangtuanya. Dengan adanya penghargaan inipun, akan menumbuhkan sikap menghargai. Jika orang tua mampu menghargai prestasi anak dalam hal ibadah, maka sang anak pun akan menghargai ibadah itu.

Penghargaan ini pun tidak selalu diberikan atau pun diekspresikan dalam bentuk barang, apalagi barang-barang yang mewah dan berlebihan. Tetapi bisa disampaikan dengan ucapan terima kasih, pelukan dan ciuman penuh kasih sayang serta belaian yang diberikan sesudah anak mengerjakan shalat juga merupakan penghargaan yang tidak dapat diukur dengan materi.

Semoga nantinya dengan mendidik mengajarkan anak shalat sejak dini maka kita sudah menjalankan salah satu kewajiban kita sebagai orang tua karena sebagai orang tua kita juga akan dimintai pertanggungjawaban dalam berbagi hal termasuk juga dalam hal yang satu ini.
sumber :  http://askep-net.blogspot.com/2012/09/mendidik-mengajarkan-anak-shalat.html

Tuesday, December 10, 2013

Cara Mendidik Anak Agar Mandiri Sejak Dini

Cara Mendidik Anak Balita Mandiri Sejak Dini sangat perlu dilakukan oleh setiap orang tua. Perilaku dan perkembangan anak pada masa balita sangat dipengaruhi oleh orang tuanya. Pada saat seorang anak berusia 3-4 bulan orang tua sudah dapat mengajarkan kemandirian kepada anak. Oleh karena itu penting bagi setiap orang tua untuk mengetahui cara mendidik anak balita mandiri sejak dini.
Ada banyak hal sederhana yang dapat dilakukan seperti membiarkan anak berlatih tengkurap sendiri dengan tidak membantu secara langsung tetapi memberikan semangat untuk membangun kemandirian anak. Pada saat anak mulai belajar duduk pada usia 6-7 bulan harus diterapkan untuk tetap mandiri, bahkan saat anak mulai belajar berjalan tetap diajarkan kemandirian.

Cara mendidik yang baik untuk membentuk kemandirian anak sejak dini dapat juga dilakukan pada saat anak sedang makan. Meskipun berantakan, sebaiknya anak dilatih untuk makan sendiri sehingga dapat efektif membentuk kemandiriannya. Orang tua yang bijaksana akan memberikan kebebasan dengan menyertakan tanggungjawab didalamnya kepada anak sehingga akan memberikan motivasi kepada anak untuk melakukan berbagai hal secara mandiri dengan dukungan yang positif. Seorang anak akan memperhatikan dan menirukan perilaku orang tua pada berbagai hal seperti saat makan, karena itu memberikan contoh perilaku yang benar adalah cara mendidik anak balita mandiri sejak dini.

Pendidikan Pra-Sekolah: Cara Mendidik Anak Balita Mandiri Sejak Dini
Kemandirian seorang anak sangat penting untuk perkembangan aspek-aspek penting dalam kehidupannya termasuk aspek kecerdasan. Seperti diketahui bahwa otak manusia mengalami perkembangan paling pesat pada usia 0-7 tahun. Perkembangan otak ini akan optimal apabila dibantu dengan stimulasi yang benar. Oleh karena itu apabila orang tua membawa anaknya untuk masuk dalam sebuah kelompok bermain sejak usia 2 tahun merupakan tindakan yang baik untuk membantu menumbuhkan kemandirian anak. Pendidikan pra-sekolah seperti kelompok bermain penting bagi perkembangan kemandirian anak karena akan memberikan fondasi untuk jenjang pendidikan berikutnya.

Program yang diberikan pada pendidikan pra-sekolah harus terarah dan disesuaikan dengan usia anak untuk mengoptimalkan perkembangan intelektual, perkembangan fisik, perkembangan bahasa, perkembangan sosial-emosional. Anak pada usia balita mempunyai tingkat perkembangan yang berbeda-beda, karena itu memberikan stimulasi yang seimbang kepada anak dengan kegiatan bermain yang sifatnya mendidik dengan cara yang komunikatif dan dengan kasih sayang maka anak akan merasa senang dan betah selama mengikuti kegiatan pendidikan pra-sekolah. Cara mendidik anak balita mandiri sejak dini akan efektif apabila didukung oleh kemampuan dan pengetahuan yang baik tentang perkembangan anak secara keseluruhan.

Sunday, December 8, 2013

Stimulasi Merangsang Kecerdasan Anak

Untuk merangsang kecerdasan anak sejak dini, diperlukan stimulasi bermain sejak dini. Apakah stimulasi bermain sejak dini itu? Menurut Dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, stimulasi dini adalah rangsangan bermain yang dilakukan sejak bayi baru lahir. Rangsangan atau stimulasi ini sebaiknya dilakukan sejak janin masih berusia 6 bulan di dalam kandungan. Mengapa?

Stimulasi dipercaya dapat memengaruhi pertumbuhan sinaps (proses sinaptogenesis), yang membutuhkan banyak sialic acid untuk membentuk gangliosida, yang penting untuk kecepatan proses pembelajaran dan memori.

Rangsangan yang harus dilakukan dengan penuh kegembiraan, kasih sayang, dan setiap hari untuk merangsang semua sistem indera. Selain itu, harus juga merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan, dan jari-jari, mengajak komunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dari pikiran bayi dan balita.

Rangsangan yang dilakukan dengan suasana bermain dan kasih sayang, sejak lahir, terus-menerus, dan bervariasi, akan merangsang pembentukan cabang-cabang sel-sel otak, melipat gandakan jumlah hubungan antar sel otak sehingga membentuk sirkuit otak yang lebih kompleks, canggih, dan kuat. Dengan demikian, kecerdasan anak makin tinggi dan bervariasi (multiple intelligence).

Lalu, bagaimana menstimulasi janin yang masih dalam kandungan? Si ibu atau ayahnya bisa melakukannya dengan berbicara dekat perut si ibu, menyanyikan lagu, membaca doa, lagu-lagu keagamaan, sambil mengelus perut si ibu. Dapat pula memperdengarkan lagu dengan menempelkan earphone di perut ibu atau si ibu juga mendengarkan lagunya. Ada sebagian literatur yang mengatakan bahwa mendengarkan lagu klasik baik untuk perkembangan otak anak. Jika memang ingin memperdengarkan lagu klasik pada anak, penting juga untuk si ibu menyukai lagu-lagu tersebut. Sebab, suasana hati si ibu juga bisa memengaruhi si bayi. Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap hari, setiap saat ibu bisa berinteraksi dengan janinnya, misal, saat mandi, masak, cuci pakaian, berkebun, dan sebagainya.

Sementara untuk bayi atau balita, stimulasi bisa dilakukan dengan beragam cara sesuai perkembangan usianya, contoh:

Usia 0–3 bulan, berikan rasa nyaman, aman, dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, membunyikan suara atau musik, menggerakkan benda berwarna mencolok, benda berbunyi, menggulingkan bayi ke kanan/kiri, tengkurap-telentang, dan dirangsang untuk meraih dan memegang mainan.

Usia 3–6 bulan, bisa dengan bermain “cilukba”, melihat wajah bayi di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Usia 6–9 bulan, panggil namanya, salaman, tepuk tangan, bacakan dongeng, rangsang duduk, latih berdiri berpegangan.

Usia 9–12 bulan, mengulang menyebut mama-papa, kakak, masukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, gelindingkan bola, latih berdiri, jalan berpegangan.

Usia 12–18 bulan, latihan dengan corat-coret pensil warna, susun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle), masukkan dan keluarkan benda kecil dari wadah, main dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap, dan lainnya. Latihlah untuk berjalan tanpa pegangan, jalan mundur, panjat tangga, tendang bola, lepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukkan ini, ambil itu), sebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

Umur 18–24 bulan, tanyakan, sebutkan, tunjuk bagian-bagian tubuh (mata, hidung, telinga, mulut, dan lainnya), tanyakan gambar atau sebutkan nama binatang dan benda-benda di sekitar rumah, ajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum, mandi), latihan gambar garis, cuci tangan, pakai baju-celana, main lempar bola, melompat, dan lainnya.

Umur 2–3 tahun, ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit, dan lainnya), sebutkan nama teman, hitung benda, pakai baju, sikat gigi, main kartu, boneka, masak-masakan, gambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil/besar di toilet.

Setelah 3 tahun, selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi ini juga diarahkan untuk kesiapan bersekolah, antara lain; memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil/besar di toilet), dan kemandirian (ditinggal di sekolah), berbagi dengan teman, dan lain sebagainya. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga), tetapi dapat pula di kelompok bermain, taman kanak-kanak, atau sejenisnya.

Friday, December 6, 2013

Pengaruh TV Terhadap Dunia Anak

TV merusak dunia anak? Jawabannya, banyak sekali. Semua program TV dan siaran iklan yang menyertainya, menyampaikan pesan yang berbeda-beda dan mengajarkan hal yang lain pula. Satu hal yang dicemaskan banyak orangtua ialah anak belajar kekerasan dari TV. Ini bisa dipahami. Sebab, tak sedikit adegan kekerasan muncul di layar TV, mulai dari pertengkaran mulut sampai perkelahian dan pembunuhan. Bukan cuma dalam program-program tayangan dewasa, tapi juga anak-anak.

Anda tak dapat menghindari ini, tapi bisa mencegah pengaruh buruknya. Jelaskan padanya, orang-orang yang ia lihat di TV adalah aktor dan mereka melakukan itu tidak dengan sungguh-sungguh. Atau, hapuskan semua program yang lebih banyak mengeksploitir adegan kekerasan dari daftar program TV yang sudah Anda pilih untuk anak. Jangan pula izinkan si kecil menonton program untuk dewasa.

Pelajaran lain dari TV yang perlu diwaspadai ialah stereotipe sosial tentang wanita, pria, minoritas, orang lanjut usia, dan banyak kelompok lain, termasuk anak-anak. Stereotipe ini kadang dilebih-lebihkan. Misalnya, pria selalu digambarkan jadi pemimpin dalam mengatasi keadaan sementara yang wanita tetap pasif atau tak berdaya. Anak-anak belajar dari penggambaran ini terutama bila mereka hanya mempunyai sedikit kontak dengan kelompok yang digambarkan.

Sebagaimana adegan kekerasan, Anda pun tak dapat menghindari adegan-adegan yang menggambarkan stereotipe sosial ini. Nah, berilah gambaran yang tepat pada anak tentang hal yang sebenarnya berlaku di masyarakat. Bukan cuma lewat kata-kata tapi juga harus diperkuat oleh perilaku Anda sehari-hari. Bagaimana Anda sehari-hari bersikap terhadap anak Anda, misalnya, merupakan contoh bagaimana seharusnya orang dewasa memperlakukan seorang anak. Atau, bagaimana ayah memperlakukan ibu dan bagaimana ibu memperlakukan ayah, akan memberikan gambaran pada anak tentang bagaimana seharusnya seorang pria memperlakukan wanita dan sebaliknya.

Ingatlah, TV akan memberikan pengaruh yang nyata pada anak, antara lain tergantung dari seberapa banyak anak dapat mengingat hal-hal yang ia tonton dan seberapa baik pemahamannya terhadap apa yang ia tonton. Jika ia menafsirkan kekerasan atau stereotipe sosial di TV sebagai pola perilaku yang direstui masyarakat dan model yang benar untuk ditiru, maka pengaruhnya akan sangat berbeda ketimbang bila ia menafsirkannya sebagai pola perilaku yang tak direstui dalam masyarakat.

Monday, November 11, 2013

Mendidik Anak Bermain Dalam Kerapian

Mainan berserakan, buku-buku berhamburan, belum lagi baju kotor ikut tercecer di mana-mana. Hmm, rasanya baru tadi pagi Anda membersihkan kamar sang buah hati, eh tahu-tahu kamar ini sudah kembali seperti kapal pecah.

Jika Anda sudah bosan menjadi 'mom cleaner', maka kini saatnya untuk bertindak mendisiplinkan buah hati agar ia menjadi lebih terorganisir.

Berbagai keuntungan pastinya bakal didapatkan jika Anda menerapkan disiplin pada anak sejak masa muda mereka. Yang pertama, Anda tidak perlu lagi capek-capek membersihkan kapal pecah tersebut. Kedua, ini juga melatih mental anak untuk lebih bertanggung jawab atas tiap tindakan mereka, maksudnya pastikan mereka tahu bahwa bila berani membongkar maka harus berani membereskan juga.

Yang perlu Anda ketahui sebelum mendisiplinkan adalah bahwa anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat lebih dari yang mereka dengar. Jadi, jika ingin kamar atau bahkan seluruh rumah selalu terjaga kebersihan dan kerapiannya, maka berikan teladan, pelatihan, dan pengaturan yang nyata bagi mereka.

Taruh barang pada tempatnya. Hal ini sangat penting untuk mendidik agar mental anak lebih terorganisir dan rapi. Selain itu, bukankah bakal memudahkan Anda juga jika ingin mencari barang tertentu saat itu diperlukan?! Jika memungkinkan, minta bantuan putra-putri Anda untuk melabeli kotak-kotak atau lemari penyimpanan. Misalnya kotak ini untuk buku, satunya untuk mainan, dan lain-lain.

Beri batasan tempat bermain. Jika tidak ingin rumah Anda dipenuhi dengan mainan yang berserakan, maka Anda harus menerapkan prinsip yang satu ini. Untung-untung jika rumah Anda memiliki banyak kamar sehingga anak mempunyai kamar bermain sendiri, namun bila tidak, maka berikan space khusus bagi mereka untuk dapat bermain dengan leluasa. Namun, ingatkan mereka untuk tidak melanggar batas wilayah tersebut. Dengan lain kata, tegaskan bahwa Anda tidak ingin melihat ada mobil-mobilan di atas meja dapur.

Beri batasan waktu bermain. Selain ruang lingkup, anak juga harus memiliki jam main. Mereka tidak seharusnya dibiarkan bermain sepanjang waktu. Sebaiknya Anda mengijinkan mereka bermain setelah mereka menyelesaikan tiap tanggung jawab yang ada, misalnya selesai mengerjakan pr dan pekerjaan rumah lainnya. Dengan demikian jam bermain tersebut bisa dipakai sebagai reward bagi anak-anak. Pilihlah mainan yang edukatif agar tumbuh kembang anak lebih baik lagi.

Pilih hasil karya yang terbaik saja. Adalah hal yang sangat membesarkan hati jika anak melihat bahwa hasil karya mereka cukup layak untuk dipajang di salah satu sudut rumahnya.

Namun, tak semua karya mereka akan muat untuk dipajang. Jadi, saat akhir tahun ajaran tiba, maka duduklah dan diskusikan dengan mereka karya-karya mana yang bakal dipajang, dibukukan, dan dibuang. - Mendidik Anak Bermain Dalam Kerapian

Saturday, November 9, 2013

Cara-Cara Sederhana Mendidik Anak Disiplin

Mendidik anak disiplin sangatlah penting untuk dilakukan oleh para orang tua. Dengan mendidiknya disiplin, hal itu berarti mempersiapkannya untuk terjun ke dunia luas yang cukup keras. Jika anak terbiasa dimanjakan dan sering berleha-leha, suatu saat dia akan mengalami shock saat harus berkecimpung di dunia sosial secara langsung.
Berikut akan diberikan tips-tips mengenai cara membuat putra-putri Anda disiplin dan mengatasi saat mereka melawan seperti dilansir dari situs WebMD.

Memberi hadiah setelah dia melakukan sesuatu yang baik
Jika dia tiba-tiba berinisiatif membersihkan halaman rumah Anda atau membereskan kamarnya sendiri, coba berikan pujian. Anda bisa melakukannya dengan mengatakan “Wah, sekarang halamannya jadi lebih bagus sayang, terima kasih”. Hal tersebut akan membuatnya merasa dihargai dan kemungkinan besar akan mengulanginya lagi hal positif tersebut. Memberikan pujian untuk kebaikan yang dia lakukan lebih efektif untuk mendidiknya daripada menghukumnya saat dia salah.

Buat aturan yang jelas
Dengan memberikan aturan yang jelas, Anda bisa langsung memperingatkannya jika dia melakukan kesalahan. Beda halnya jika Anda tidak membuat peraturan tersebut, anak Anda tidak tahu mengenai hal tersebut dan Anda juga tidak memiliki wewenang yang kuat untuk menyalahkan dan membuatnya disiplin karena dia memang tidak mengetahui hal itu.

Menghindari perdebatan
Jika putra atau putri Anda ingin membela dirinya saat Anda menyalahkannya, cobalah untuk membuat jawaban yang tidak membuatnya terpojok. Di sisi lain, cobalah bertindak dengan mempertimbangkan yang dia rasakan. Seandainya ia berteriak “ini nggak adil!”, coba katakan “ya, ibu mengerti”. Dengan begitu, Anda sebagai orang tua tidak akan terkesan ingin menang sendiri dan putra putri Anda akan merasa lebih dimengerti dan tidak mendebat lagi.

Tenangkan diri Anda ketika emosi
Saat anak Anda ingin melakukan sesuatu yang menurut Anda kurang tepat dan membuat Anda sedikit marah, coba pergi sebentar dan tenangkan diri Anda. Mungkin Anda bisa mengatakan “Sepertinya aku kurang setuju. Nanti akan ku beritahu kalau sudah ku pertimbangkan.” Setelah tenang, coba ajak dia bicara dan katakan pendapat Anda serta beritahu dia konsekuensi dari apa yang akan dia lakukan. Anda tidak perlu marah, cukup jadikan hal itu permasalahan yang harus dihadapi anak Anda.

Tetap konsisten dengan peraturan yang Anda buat
Melihat putra-putri Anda senang tentu saja juga membuat Anda bahagia. Namun, jangan sampai hal ini membuat peraturan yang Anda buat mengendur. Jika dia bermain Play Station melebihi waktu yang ditentukan, jangan ragu untuk membuatnya disiplin. Mereka belum benar-benar bisa menghandle dan mengatur kegiatannya, dan Anda yang lebih mengetahui tentang hal itu.

Disiplinkan diri Anda
Satu cara yang paling mudah dilakukan untuk belajar adalah meniru. Orang tua adalah yang paling sering mereka temui dan amati setiap harinya, itulah mengapa perilaku anak tidak pernah jauh dari orang tuanya. Maka dari itu, coba berikan contoh yang baik, buat diri Anda disiplin terlebih dahulu sebelum mendisiplinkan putra-putri Anda.
Dengan mendidik anak untuk disiplin, akan membiasakannya untuk hidup dengan bekerja keras. Hal tersebutlah yang akan mereka hadapi nanti. Jangan buai mereka dengan kemudahan-kemudahan karena hal itu hanya akan membuat mereka cengeng dan tidak tangguh.

Wednesday, May 22, 2013

Tips Mendidik Anak Dengan Sabar


Bagi para pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini (paud) maupun di taman kanak-kanak dan juga bagi orang tua hari ini ada tambahan satu tips lagi dalam mendidik dan mengasuh anak. Tips yang satu ini berkaitan dengan Anda sebagai seorang pendidik. Dalam artikel kali ini kita akan mencoba membahas sikap emosional yang seringkali dialami oleh pendidik dan orang tua dalam mendidik anak. Sebagai sosok yang menjadi panutan bagi anak Anda dituntut untuk bisa mendidik anak-anak dengan baik dan benar serta positif bagi perkembangan anak.
 
Mendidik anak perlu kesabaran dan kebijakan yang tinggi. bagaimanapun, kondisi emosional pendidik / orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional anak. jika anak sering berada di lingkungan emosional yang tidak stabil maka secara otomatis anak akan memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah. tentunya ini sangat merugikan karena keberhasilan seseorang kelak lebih banyak ditentukan karakter anak yang didalamnya kondisi emosional seseorang.

Membuat anak memiliki karakter dan kecerdasan emosional tentu memerlukan proses panjang dimana setiap orang tua harus berusaha mengendalikan emosi pada saat mendidik anakmaupun di kehidupan sehari hari yang sejatinya merupakan lingkungan sesungguhnya dari perkembangan anak Anda.

Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengendalikan emosi ketika mengasuh anak antara lain :

1. Pujilah hal menyenangkan yang dilakukan anakmaka kita juga akan ikut senang

2. Sikapi dengan bijak setiap kesalahan yang dilakukan anak dan segera tunjukkan langkah perbaikannya dengan sabar dan konsisten

3. Tarik nafas secara perlahan sedalam mungkin dan lepaskan tanpa sepengetahuan anak jika emosi Anda telah memuncak dengan ulah anak setelah itu tersenyumlah terhadap anak Anda.

Mudah mudahan beberapa tips mengontrol emosi dalam mendidik anak diatas dapat dijadikan jalan bagi Anda untuk meningkatkan kecerdasan anak, membentuk karakter anak yang unggul agar kelak menjadi pribadi yang unggul

Tuesday, April 23, 2013

Cara Mendidik Balita Menjadi Anak Yang Sholeh

Memiliki anak sholeh merupakan dambaan setiap keluarga. Di samping sebagai penerus keturunan, kelak anak sholeh juga akan menjadi investasi di masa yang akan datang. Pada usia dini, seorang anak akan lebih mudah untuk menerima perubahan ketimbang ketika ia telah dewasa. Dan pada usia dini itulah, masa pembentukan jati diri, pola pikir dan watak sang anak sedang berproses.

Dalam masa pembentukan itulah, orangtua hendaknya memberikan perannya secara optimal. Orangtua harus mampu memberikan pengaruh positif kepada sang anak. Isilah kepala, hati dan jiwa anak anak yang sedang dalam proses pembentukan tersebut dengan nilai nilai yang baik. Orang tua harus dapat menjadi filter bagi berbagai unsur negatif yang dapat merusaknya. Jangan sampai sang anak justru memperoleh pengaruh-pengaruh negatif dari luar.

Untuk itu, langkah terbaik untuk menjadikan seorang anak menjadi sholeh/sholehah hendaknya dilakukan sejak dini. Saat memorinya belum terkontaminasi dengan pengaruh-pengaruh negatif. Anda dapat mulai membiasakan beberapa hal berikut kepada diri dan anak anda sejak dini:

1.Bangunkan shubuh sejak balita
Bangun pada waktu shubuh adalah sebuah aktivitas yang sangat berat bagi orang-orang yang tidak biasa untuk melakukannya. Untuk itu, membiasakan membangunkan anak pada waktu shubuh sejak balita adalah langkah terbaik untuk menjadikannya sebagai sebagai sebuah kebiasaan.

2.Berikan lingkungang pergaulan dan pendidikan yang islami
Lingkungan dan pergaulan adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Maka, dalam hal ini anda dapat memulainya dengan mengirimkan anak anda ke TPA (Taman Pendidikan Al Quran) atau mengikuti kursus-kursus islam di Masjid dan sebagainya.

3.Jangan egois!
Orang tua adalah teladan yang pertama bagi anaknya, maka jadilah teladan yang terbaik bagi anak anda. Jangan bersikap egois. Jangan hanya memerintahkan anak anda untuk mengaji atau pergi sholat berjamaah, sedangkan anda tidak melakukannya. Karena hal tersebut akan menimbulkan pembangkangan kepada anak, minimal secara kejiwaan.

4.Safari Masjid
Bawalah anak anda untuk melakukan safari masjid minimal sepekan sekali. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap masjid dan sholat berjamaah dihati anak.

5.Perkenalkan batasan aurat sejak dini
Umumnya, cara berpakaian kita saat ini adalah kebiasaan yang sudah kita bawa sejak kecil. Seorang anak dibiasakan menggunakan pakaian yang ketat, dibiasakan berpakaian tanpa jilbab, maka hal tersebut akan terbawa hingga remaja dan dewasa. Kebiasaan ini akan sangat sulit sekali untuk merubahnya. Dengan alasan gerah, panas, nggak nyaman, ribet, nggak gaul, nggak PD, dan dengan seribu alasan lainnya mereka akan menolak penggunaan pakaian yang menutup aurat.

Jika kita memperkenalkan batasan aurat kepada anak kita dan membiasakannya untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat sejak dini, insya Allah keadaannya akan berbalik. Ia akan merasa berdosa, malu, nggak nyaman, bersalah, dan menolak untuk beralih ke pakaian-pakaian yang tidak menurut aurat. Ia akan berpikir seribu kali, bahkan tidak terpikir sekalipun dan sedikitpun untuk melakukannya.

6.Selalu membawa perlengkapan sholat
Ajarkan kepada anak untuk selalu membawa perlengkapan sholat kemanapun mereka pergi sekiranya akan melewati masuknya waktu sholat.

7.Meminimalisir mendengarkan musik-musik non islami
Minimalisir mendengarkan lagu-lagu non islami seperti lagu-lagu picisan, rock, barat, dan lain-lain. Maksimalkan membaca AL Quran berjamaah, mendengarkan kaset mu’rotal, mendengarkan kaset ceramah atau nasyid islam.

8.Buatlah jadwal nonton TV
Hendaknya, orang tua tidak membiasakan menonton acara TV bersama anak yang tidak mengandung unsur pendidikan kepada anak, misalnya sinetron, film horor, film-film cengeng (romantika), dan lain-lain.

9.Ajarkan nilai-nilai islam secara langsung
Ajarkan nilai-nilai islam yang anda kuasai secara langsung kepada anak anda sejak dini. Sampaikan dengan bahasa-bahasa yang menarik, misalnya melalui sebuah cerita.

10.Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran
Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran, sesuai dengan kadar kemampuan si anak. Hubungkan hadits dan ayat Al Quran ketika kita memberikan nasihat atau teguran mengenai perilakunya sehari-hari.

11.Jadilah sahabat setia baginya
Perkecil menunjukkan sikap menggurui kepada anak, bersikaplah sebagai seorang sahabat dekatnya. Jadilah tempat curhat yang nyaman, sehingga permasalahan anak tidak akan disampaikan kepada orang yang salah, yang akhirnya akan memberikan solusi yang salah pula.

12.Ciptakan nuansa kehangatan
Nuansa hangat dan harmonis dalam keluarga akan memberikan kenyamanan bagi seluruh anggotanya, termasuk anak. Hal ini akan memperkecil masuknya pengaruh buruk dari luar kepada anak. Ia tidak akan mencari tempat diluar sana yang ia anggap lebih nyaman dari pada di rumahnya sendiri.

13.Sampaikan dengan dengan bijak, sabar, dan tanpa bosan
Ingat! Yang sedang anda bentuk adalah makhluk bernyawa, bukan makhluk yang tidak bernyawa. Maka sampaikan semuanya dengan penuh kesabaran, kebijaksanaan, dan jangan pernah merasa bosan untuk mengulangnya. Jangan menggunakan kekerasan, dan hindari emosi yang akan membuat anak sakit hati. Bisnis Online

Wednesday, April 17, 2013

Cara Mengajarkan Anak Bersikap Baik

Sikap seseorang dapat ditentukan oleh pendidikan anak usia dini. Sebagai orang tua, Anda harus memperhatikan bagaimana anak-anak Anda di masa depan. Itulah mengapa Anda perlu mengajari mereka nilai-nilai yang baik sehingga mereka akan memiliki sikap yang baik dan sopan santun. Oleh karena itu, kami memiliki beberapa tips untuk Anda.

Hal penting yang perlu diingat adalah bahwa Anda menjadi contoh anak-anak Anda. Mereka akan meniru apa yang Anda lakukan. Jika Anda ingin anak-anak Anda memiliki sopan santun dan etika, kemudian Anda menjadi orang pertama yang mengajarkan mereka nilai-nilai yang baik.


Jika Anda memiliki lebih dari satu anak, pastikan bahwa Anda mendisiplinkan mereka berdua. Jangan berpihak ke salah satu anak. Beberapa orang tua memperlakukan anak-anak mereka yang lebih muda kurang disiplin dibandingkan yang lebih tua. Pastikan bahwa Anda tetap adil terhadap mereka. Sejak awal, Anda harus tetapkan nilai-nilai baik ke dalam pikiran anak pertama. Ketika tua dia akan bersikap baik, yang lebih muda akan meniru sikap baik kakaknya.


Anda dapat mengajarkan mereka untuk bersikap sopan, terutama dalam bahasa. Gunakan beberapa ungkapan sopan, seperti “tolong”, “permisi”, “terima kasih kembali”, “terima kasih”, “Bolehkah saya?” dan seterusnya ketika Anda berbicara dengan suami/istri Anda atau orang lain. jika mereka sering melihat hal seperti ini, mereka akan terbiasa dengan menggunakan frase tersebut. Terus berlatih frase sopan meskipun Anda tidak menyukai orang yang Anda ajak bicara. Katakan kepada mereka itu bukan masalah, tapi untuk bersikap sopan adalah penting. Juga, memberitahu mereka bahwa setiap orang berhak untuk dihormati.

Anda juga dapat mengajari mereka cara makan. Buatlah makan malam sebagai kegiatan yang menyenangkan. Jangan hanya memberitahu mereka seperti mahasiswa perkuliahan. Selain cara makan, Anda dapat memberitahu mereka etika menggunakan barang-barang orang lain tanpa izin, bilang bahwa mereka tidak sopan. Anda dapat memberi mereka misalnya dengan meminta izin untuk menggunakan barang-barang mereka.


Satu hal yang lebih penting, Anda harus berhati-hati ketika mereka membuat kesalahan. Beri mereka teguran sopan dan edukatif. Jangan berteriak kepada mereka atau menyalahkan mereka. Anda dapat mengatakan, “Jenny, kau gadis yang baik, Seorang gadis yang baik tidak berbohong, kan, Sayang?” Di sisi lain, sementara mereka melakukan hal-hal yang baik, memuji mereka. Pujian akan memotivasi mereka untuk melakukan nilai-nilai yang lebih baik.

Diatas merupakan tips untuk membangun sikap yang baik untuk anak-anak Anda. Kami berharap bahwa itu berguna untuk Anda. Pastikan bahwa Anda mengajarkan mereka sopan santun sedini mungkin sehingga mereka memiliki kebiasaan positif ketika mereka tumbuh menjadi remaja dan dewasa.

Tuesday, April 16, 2013

Tips Agar Anak Tidak Kecanduan Bermain Internet

Internet semakin mudah untuk diakses oleh siapa saja, dimana saja dan juga kapan saja dan salah satunya adalah anak-anak. Memang dengan adanya internet semua pekerjaan akan semakin mudah, akan tetapi apabila ini terus dilakukan bisa berbahaya.

Terutama bagi anak-anak, oleh karena itu orang tua harus memperhatikan peralatan mainan sang anak agar tidak kehilangan arah yaitu internet. Berikut ini adalah cara agar anak tidak kecanduan pengaruh buruk internet:

1. Periksalah akun media sosial
Jika anda orang tua yang baik cobalah untuk selalu memeriksa akun sosial media anak Anda secara rutin hal ini agar anak tidak masuk ke dalam pergaulan bebas.

2. Jangan letakkan komputer di kamar anak
Anda meletakkan komputer di kamar anak anda? sebaiknya segeralah untuk memindahkan itu semua karena anak-anak bisa saja dengan bebasnya membuka situs yang sebenarnya tidak boleh di buka untuk orang seusianya.

3. Membuat peraturan rumah
Ini salah satu cara yang cukup ampuh, dengan memakai peraturan rumah seperti tidak boleh bermain di malam hari atau harus tidur sesuai jadwal yang telah di tentukan oleh anda para orang tua.

4. Ajari tentang tata krama internet
Dengan mengajarkan tata krama di internet maka anak akan dengan mudah untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya dan juga orang lain.

Monday, April 15, 2013

Cara Terbaik Menerapkan Aturan Pada Anak-Anak

Orang tua tentu senang bila melihat rumahnya rapi dan bersih. Tapi, kebanyakan orang tua yang memiliki anak kecil, merasa hal tersebut mustahil terwujud. Mengingat anak mereka yang masih senang bermain dan mengotori rumah.

Tidak sedikit para orang tua yang berusaha menerapkan aturan pada anak mereka yang masih kecil. Tapi, bagaimana hasilnya? Mungkin tidak sedikit dari orang tua yang kewalahan sendiri dalam mengatur aturan itu sendiri.

Aturan itu dibutuhkan dalam keluarga agar semua merasa nyaman dan segala sesuatu yang dilakukan mengandung peran dan tanggung jawab. Begitu juga dengan anak-anak kita, walaupun mereka masih kecil tapi tetap harus mengikuti aturan yang dibuat oleh orang tuanya. Tentunya orang tua sangat senang melihat anaknya bisa mengikuti juga mematuhi segala perintah dan aturan yang sudah ditetapkan bersama.

Lalu, bagaimana cara terbaik menerapkan aturan pada anak-anak kita? Menerapkan aturan yang dibuat tanpa mengekang dan tentu bisa dipatuhi anak. Berikut ada beberapa tips yang perlu diperhatikan dalam membuat aturan keluarga:

1. Buat dan sepakati bersama anak aturan yang ditetapkan. Hal ini melatih  anak-anak untuk terbiasa diskusi dan juga mengetahui seperti apa kemauan sang anak untuk menerapkan aturan. Hindari aturan yang diktator atau hanya dari pihak orang tua. Orang tua juga harus taat pada aturan yang sudah disepakati.

2. Jika ada sanksi, harus diarahkan pada perbaikan tindakan anak. Misalnya jika anak memukul adiknya maka dia akan di beri hukuman time out agar dia bisa memikirkan dan mengoreksi tindakannya dan tidak mengulangi.

3. Hindari menunda sanksi agar anak segera mengoreksi tindakannya yang belum benar. Disiplin dalam memberi sanksi pada anak akan menumbuhkan rasa tanggung jawab akan perbuatannya.

4. Biasakan memberikan penguatan dengan pujian ketika aturan selalu dilaksanakan dengan baik. Pujian akan membuat anak semangat dalam mematuhi aturan yang sudah dibuat. Bila perlu, buat semacam perlombaan, dimana yang banyak mematuhi peraturan dirumah mendapatkan hadiah.

5. Konsisten dengan aturan yang telah disepakati bersama anak. Walaupun keadaan dianggap tidak memungkinkan. Aturan tetap harus dilaksanakan, hal ini melatih kedisiplinan.

Aturan yang ditetapkan harus jelas dan dipatuhi secara konsisten oleh seluruh anggota keluarga. Aturan di dalam rumah, bukan hanya ditujukan kepada anak kita, kita sebagai orang tua dan orang dewasapun juga harus menuruti aturan apa yang sudah dibuat. Hal ini juga bentuk contoh nyata, bahwa kedua orang tuanya juga mematuhi aturan yang sudah di buat, lalu mereka pun akan mengikuti.

Bukan hanya pada aturan, tetapi juga hukuman bila melanggar aturan juga harus orang tua patuhi. Kebanyakan aturan yang dibuat orang tua hanya akan menghukum anak-anak bila melakukan kesalan, tetapi orang tua tidak mau dihukum, ini bentuk ketidak disiplinan kita sebagai pembuat aturan. Jadi, biar anak mengikuti aturan contohi menerapkan aturan dan hukuman bersamaan. Agar anak merasakan keadilan dalam penerapan aturan tersebut.

Tuesday, April 9, 2013

Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perilaku Anak

Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negative maupun positif.

Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua:
1. Pola asuh Demokratis
2. Pola asuh Otoriter
3. Pola asuh Permisif
4. Pola asuh Penelantar.

Pola asuh Demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

Pola asuh otoriter sebaliknya cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.

Pola asuh Permisif atau pemanja biasanya meberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak.

Pola asuh tipe yang terakhir adalah tipe Penelantar. Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.
Pangaruh Pola Asuh Orangtua

Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.

Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.
Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.
Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem (harga diri) yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.

Dari karakteristik-karakteristik tersebut di atas, kita dapat mawas diri, kita masuk dalam kategori pola asuh yang mana. Apabila kita memahami pola asuh yang mana yang cenderung kita terapkan, sadar atau tidak sadar, maka kita dapat segera merubahnya.

Kita juga bisa kita melihat, bahwa harga diri  yang rendah terutama adalah disebabkan karena pola asuh orang tua yang penelantar. Banyak sekali para orangtua terutama para wanita karier yang suda mempunyai anak yang lebih cinta kepada pekerjaannya daripada kepada anaknya sendiri. Dia lebih banyak meluangkan waktu untuk mencari uang dan uang. Dia lupa kalau di rumah ada anak-anaknya yang membutuhkan kasih dan sayang dia. Pergi kerja disaat anaknya masih tertidur pulas, lalu pulang ketika anaknya sudah tertidur pulas lagi. Sehingga, anak-anak  lebih mengenal pembantunya daripada sosok ibunya sendiri.

Feature (Side)

© 2013 Tulisan Berkesan. All rights resevered. Designed by Templateism